What goes around comes around..

Empat Belas Angka dan Satu Liga Baru..


Timnas yang lebih kuat..

Malam semakin kelam seiring waktu terus berdetak. Sekitar pukul 21:45 Jumat malam kami masih membahas segala kegiatan kami di hari itu. Suasana mencekam terasa lambat karena pembantaian di gim pertama terus menghantui dan gim berikut tak kunjung membaik. Lebih hening dan mencekam lagi, di rumah tua di jalan Kacapiring Bandung, lampu gantung chandelier besar di ruang kami berkumpul bergoyang pelan tanpa ada yang menyentuhnya dan tanpa ada angin yang berdesir malam itu. Menyeramkan..

Coach Opin bertanya ketakutan sambil menunjuk ke lampu besar yg sedang bergoyang. “Coach, itu lampu kenapa goyang sendiri? Padahal gak ada angin, kan!” Jawab saya, “Di rumah ini apa yang aneh buat saya sudah tidak aneh lagi, apa yg menakutkan buat kami yang tinggal disini sudah tidak mengganggu kami, hahaha..” Saya tertawa sambil berusaha memberanikan diri. Coach Opin memang tidak tinggal di rumah Bandung Utama, itu sebabnya dia kelihatan bingung.

Sama seperti tiap tim di Liga Bolabasket Pro kita, Bandung Utama tiap malam melakukan pertemuan pembinanya tuk bahas kegiatan hari ini dan mempersiapkan hari berikutnya. Sudah masuk gim ke tiga tapi beberapa masih mempertanyakan tentang kecilnya angka yang kita buat saat diluluhlantakkan oleh tim juara pramusim 20015. Sampai hari Minggu kemarin pun JNE Bandung Utama di acak-acak oleh tim peringkat 5 pramusim IBL 2015.

Bingung? Jangan!

Empat belas angka jelas sangat kecil kalau ini adalah torehan dari sebuah klub pada satu gim. Jujur seumur hidup profesional saya belum pernah mengalami ini sebagai pemain maupun sebagai pelatih pada rentang waktu 25 tahun. Lalu saya katakan pada staffs saya, “Adalah berkah kalau kalian mengalami ini semua sekarang!” “Kenapa bisa begitu, coach?” Ujar salah seorang dari mereka.

Pada sebuah penataran pelatih di Singapura, penatar asal Serbia berkata, “If you coach long enough, at some point in time you might end up 4-36 in a league that plays 40 games season.”

Karena talenta datang dan pergi. Sepanjang karir kita sebagai pelatih pasti akan ada saatnya kita melatih tim yang hanya menang 4 kali dan kalah 36 kali satu musim. Pendek kata, kalahan! Penasaran, staff yang satu lagi nanya, “Jadi hubungannya sama berkah dan sekarang itu apa, coach?”

Baik, katakan (contoh) kita dengan kemampuan melatih kita berada pada 80% kemenangan tiap tahunnya. Dan saat ini sedang mengalami kekalahan yang menyakitkan. Baik kalah di sebuah gim atau seri atau musim. Tapi yang sedang terjadi adalah 20% dari probabilita persentase menang kalah kita sebagai pembina.

“Kalau saya yang 25 tahun di Bolabaset baru mengalami sakit ini sekarang, artinya kalian yang merasakan sekarang akan menikmati 24 tahun lebih banyak sebagai pemenang! (Katakan mereka berangkat dari tahun nol) Enak banget idup loh..” (Dan semua tertawa kecuali coach Opin yang masih ketakutan mikirin lampu gantung bisa goyang sendiri). Cara pikir gampangnya demikian.

Bingung? Jangan!

Gampang juga ya kelihatannya sebuah liga bisa berganti dengan cepatnya tanpa ada satu kurang apapun. Padahal orang-orang yang menjalankan liga baru ini bukan orang yang kemarin menjalankan liga pro Bolabasket Indonesia. Saya tahu menjalankan sebuah liga baru bukanlah sebuah hal yang mudah seperti membalikkan tangan. Hebat, salut dan membuat banyak orang yg terlibat di Indonesian Basketball League menjadi semakin bersemangat dan positif menyongsong cabor Bolabasket yang lebih baik.

Kemarin pada sebuah wawancara saya katakan, ini semua baik tapi harus dibuat lebih baik lagi dengan memperhatikan produknya. Apa itu produknya, ya pertandingan Bolabasket ini sendirilah produknya. Semua lini di Indonesian Basketball League berbenah. Klub mempersiapkan timnya, pelatih mempersiapkan pemainnya dan sebagainya dan sebagainya. Pada masa persiapan semua tim berlatih. Pada masa persiapan para wasit melakukan…? Melakukan apa? Ini harus dipikirkan. Tiap hari tim berlatih hanya untuk diadili oleh pemuda dan pemudi yang tiap harinya melakukan…? Auk ah..

Masuk pada sebuah pertandingan, semua juga terhubung erat dengan kepemimpinan seorang atau setiga-orang pengadil yang wara-wiri dilapangan sebagai wasit. Pesan apa yang coba liga sampaikan kalau pemain melempar bola ke lawannya saat bola mati dan tidak dikenakan sangsi apapun. Lalu apa yang akan anak-anak kecil pikir saat menonton  seorang pemain setelah mencetak angka lalu berteriak keras didepan wajah lawannya dengan sengaja? Profokatif? Pesan negatif? Sudah pasti bukan grup band Naif! lalu benci untuk mencinta..

Jadi, transisi liga baru yang begitu halus (Baik) di pramusim laiknya juga diikuti dengan perbaikan dari sisi pengadilnya. Karena kualitas sebuah pertandingan yang baiklah yg akan membuat semua ini jadi lebih hebat. Bad call, missed call dan good no call akan selalu ada pada tiap gim. Dan pembelaan pelatih dari pinggir lapangan akan selalu membumbui pertandingan yang kita cintai ini. Di Liga mana saja!

Namun jangan sesekali beri pesan yang salah ke masyarakat pecintanya. Saya pernah tulis di blog ini tentang apa arti margin raksasa? Apa pesan yang baik dari pembantaian hingga lawan hanya mencetak 14 angka dalam satu gim tapi pemain bintangnya atau komposisi terkuat tetap bermain? Good-bad coaching? Good-bad officiating? Lalu apa yang aneh kalau dalam satu tim hanya dua pemain yang terkena foul tapi keduanya terkena sampai 4 foul? Kita semua yang terlibat di Indonesian Basketball League harus terus bergerak maju. Pelaksanaan pra musim yang sangat baik, bravo!

Bingung? Jangan..

 

 

 

 

 

Ps: Lampu bergoyang di rumah Kacapiring karena Gempa 5,6 SR di Pandeglang..

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s