What goes around comes around..

Share: Memilih Klub Bolabasket..


Pemain Muda, Selamat memilih klub.. Pic: Bola

Bolabasket tidak akan jauh dari hidup saya. Beruntung punya orang tua yang memang berasal dari bidang Olahraga. Mereka banyak membantu membuka pikiran akan masa depan yang berhubungan dengan cabor ini. Tetapi apakah semua tentang Bolabasket dan sekitarnya akan mutlak diputuskan oleh orang lain? Atau mungkinkah si calon pemain  memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya? Ini pengalaman saya..

Dengarkan Ayah dan Ibu

Lepas dari latar belakang orang tua kita, mereka akan sangat bijaksana dalam menentukan arah hidup kita dan apa yang benar-benar kita mau. Mereka juga yang mengingatkan kita akan prioritas hidup kedepan. Bahwa sampai hari ini Bolabasket di Indonesia tidak akan menjamin kehidupan yang layak bagi lingkungannya. Bahwa sekolah dan pendidikan lainnya tetap menjadi prioritas utama bagi semua pemain Basket muda Indonesia.

Ada beberapa pemain tenar pada jamannya yang hari ini berjuang untuk hidup layak. Hal ini tentunya tidak akan terjadi kalau saja mereka mendengarkan orang tua mereka tentang pentingnya pendidikan dan banyak wejangan lainnya. 

Pengulangan dan jumlah latihan yang banyak tentu sangat membantu pertumbuhan si pemain muda. Tapi hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyampingkan pendidikan. Hehe.. Saya ingat saat tim SMA dahulu, semuanya bolos sekolah hanya untuk bersiap pada sebuah turnamen atau kejuaraan. Terasa betul cinta dan niat bermain Bolabasket saat itu, tapi kalau kita tilik lebih lagi, pasti ada cara lain supaya jangan bolos sekolah.

Lain hal kalau si pemain muda ini lebih berbakat dari lainnya hingga dia akan banyak tak masuk sekolah karena acara nasional atau internasional. Hal ini bisa menjadi sebuah topik bahas pikir yang lain pada waktu dan kesempatannya.

Idenya adalah, kalau saja waktu bisa berbalik putar, tentu mantan pemain yang berjuang untuk layak hidup itu akan rajin ke sekolah. Mereka akan sadar betul kalau ucapan orang tua mereka tidak main-main!

Tidak main-main juga ketika orang tua menginginkan saya bergabung pada sebuah klub Bolabasket dimana dia saat itu menjadi pengurusnya. “Anak saya akan lebih aman terkontrol dekat saya”, pikir beliau mungkin. Pikir saya lain! Lalu kita berdiskusi (Pake urat ngotot dikit) mengenai banyak hal seputar klub ini dan klub itu. Singkat tulisan, saya mengerti maksud ortu saya dan beliau juga terima maksud dan tujuan saya tidak memilih bergabung dengan klub pilihannya.

Mereka serius memikirkan masa depan kita dan semuanya akan lebih sempurna kalau diskusi berjalan baik. Entah karena budaya Ambon atau apa, tapi kalau kami berdiskusi memang tetangga pasti akan berpikir kalau rumah tangga sebelah ini sudah retak!!! I love you Mom & Dad.. (Be cuma bilang ini satu kali sa e! Tar ada be mo tulis ini lai di blog ini, satu kali sa supaya Kamong tau be sayang. Satu kali sa!)

Rencanakan Tujuan

Dengan berdiskusi dan tukar pikiran antara orang tua dan anak (pemain muda) akan terlihat tujuan yang betul-betul ingin dicapai dalam pemilihan sebuah klub. Misalnya ada seorang anak yang sangat berbakat dan sangat diminati oleh banyak klub. Sementara orang tua sangat bermasalah dengan ekonomi atau berasal dari keluarga tidak punya. Pilih langsung sebuah organisasi yang punya fasilitas lebih dalam banyak hal sampai hak uang bulanan. Klub besar akan menjadi pilihan mudah, lepas dari aturan liga, sistem pembinaan, orientasi organisasinya dll. Karena Klub besar sudah barang tentu akan mampu membayar besar seorang pemain ini. Hingga pemain ini juga akan bisa menopang keluarganya yang kurang mampu misalnya. Saya tulis “misalnya” barusan karena tetap saja tidak akan sesederhana ini pengambilan keputusannya. Rencanakan sampai matang..

Atau ada orang tua yang latar belakang keuangannya sama sekali tidak ada masalah dan si anak hanya perlu bermain untuk mengembangkan karakter mandirinya. Tentunya pemain ini perlu sebuah tim yang betul-betul tahu menegakkan disiplin luar dan dalam klubnya. Cari sebuah klub yang mengagungkan sebuah karakter yang positif dari tiap anggotanya.

Tentukan tujuan dahulu baru kita akan lebih nyaman dalam memilih sebuah klub Bolabasket. Jangan pilih sebuah klub hanya karena semua teman sebaya masuk bergabung pada klub tertentu.

Kemapanan

Pertumbuhan perlu waktu dan waktu perlu biaya. Saya pilih klub yang tidak main-main dan sangat serius dengan apa yang mereka lakukan. Pelita Jaya saat itu punya banyak klub di banyak cabor jadi saya yakin mereka serius. Program berjenjang dari kelompok umur juga mereka punya saat itu. Keseriusan yang sudah mapan ini jugalah yang akan menjamin fasilitas penunjang pertumbuhan. Bagaimana mereka mengatur tempat tinggal, makanan dsb. sangat bisa dijadikan acuan dasar pemilihan. Kita semua tahu sampai hari ini segala kemewahan fasilitas itu masih centreng mentereng di klub “profesional” pertama saya ini.

Falsafah Organisasi

Saya tahu sampai hari ini masih banyak klub yang lelap pada pikir bahwa mereka adalah murni profesional. Hingga ada ragam yang membiayai sekolah dan ada yang tidak. Kalau profesional mestinya kan pemain dibayar untuk berprestasi, bukan dibayar untuk bersekolah. Tapi ini ada yang tidak membiayai dan ada yang membiayai. “Salah besar anda, coach! Semua tim di liga pro Indonesia membiayai sekolah para pemainnya.” Ujar seorang pemerhati tenar Bolabasket Indonesia, Sony.

Lepas dari semua tim membayar uang sekolah pemain, tetap saja akan terlihat tujuan dasar klub itu. Apakah mereka mengejar prestasi dengan segala cara atau mereka juga akan perhatian pada masa depan pemain-pemainnya. Saya tahu ada tim yang pikirnya kalau perlu semua pemain tidak usah sekolah dan harus hadir pada tiap sesi latihannya (Padahal ada uang sekolahnya). Atau saya juga tahu ada tim yang akan memaksa pemainnya harus tampil terlepas sehat atau tidak sehatnya pemain saat itu. Semuanya demi sebuah kemenangan semu yang salah pikirnya itu sebuah prestasi.

Atau kita mau anak kita gabung dalam sebuah klub yang mementingkan jago atau tidak jagonya seorang pemain semata. Tak peduli sikap dan kelakuan pemain di timnya baik atau buruk buat lingkungannya? Tentukan prioritas kita dahulu, baru kita bisa pilih tim mana yang sesuai dengan apa yang kita mau. Bertumbuh sebagai manusia Indonesia yang sewajarnya atau yang penting jadi pemain Bolabasket yang super jago dan tenar?

Kira-kira kalau anak saya gabung di sebuah klub, lalu dia berkiprah selama 7 tahun keatas misalnya. Selepas jadi pemain “pro”, apakah anak saya bisa bersaing saat terjun ke masyarakat? Apa yang akan anak saya dapat melalui pembinaan versi tim A atau tim B? Kesemuanya akan terjawab dari awal kalau kita bisa tahu orientasi pembinaan sebuah organisasi.

Pelatih Kepala

Saat itu dan sekali lagi hanya saat itu, keputusan memilih bergabung pada Pelita Jaya dulu lebih kepada kenyataan mereka menggunakan pelatih asing. Pikir singkat saya (Umur 17 tahun) kalau pelatih asing saat itu pasti akan selalu punya sisi runcing banding pelatih lokal. Tetapi idenya adalah memilih klub dilihat dari siapa pelatih kepalanya akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang seorang pemain muda.

Bayangkan kalau saya tahu ada pelatih A yang orientasinya menang dengan segala cara. Apa jadinya anak saya kalau berada di klub itu? Dia akan terbiasa dengan pikiran mencapai kemauan bagaimana pun juga. Baik itu cara yang salah, baik atau pun buruk. Instan!

Dan bagaimana anak saya yang baru mulai main basket di klub itu? Pasti tidak akan tersentuh karena pelatih kepalanya hanya mau menang semata saat itu juga. Tidak akan terbina dan tak  mungkin akan berkembang.

Kalau saya punya anak dan akan bergabung di sebuah klub basket Indonesia, saya pilih klub dengan pelatih kepala yang tahu menentukan prioritas buat pemain sebagai manusia. Bukan pemain sebagai pemain saja yang si pelatih kepala pikirkan. Bagaimana sikap si pelatih klub tersebut kala memimpin sebuah latihan dan pertandingan. Bagaimana pelatih klub itu menyikapi hidup dan dunianya? (Penulis bercermin!) Semua tentang pelatih kepala klub ini dan itu akan menjadi gambaran kedepan pertumbuhan anak saya. Oh iya, jenis kelamin pelatih tidak menjadi masalah selama si pelatih bisa menentukan sendiri dia wanita atau pria. Pribadi saya tidak mau kalau anak saya dilatih oleh manusia yang bingung.

Sedikit garis besar untuk melihat dan memilih klub tertuang di atas. Masing-masing dari yang saya bold diatas tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Timbang dan diskusi antara pemain muda dan orang tuanya sangat mutlak dilakukan. Ketimbang ada pihak lain yang mencoba mengambil keuntungan dari seorang pemain muda lalu merusak masa depan pemain.

Masih ada beberapa hal spesifik yang bisa juga dijadikan dasar pemilihan sebuah klub yang akan kita tuju sebagai pemain atau sebagai orang tua pemain. Lalu dasar-dasar diatas ini juga bisa dilihat sebagai acuan memilih sekolah yang menawarkan biaya pendidikan gratis bagi murid atau mahasiswa yang berbakat di cabor Bolabasket. Mau jadi pemain jago di tim juara sekolahan terus tapi kalau gak pernah belajar dan tidak berpendidikan juga percuma bukan?

“I go to school to study not to play Basketball.”   – Tim Duncan –

Iklan

9 responses

  1. Alvin

    Canggih lah coach :D

    06/03/2013 pukul 16:40

  2. bagus banget tulisan nya …semoga dapat mengilhami para pemain2 muda di masa yg akan datang…….semangat dan maju terus….sahabat

    11/07/2013 pukul 22:54

  3. roni

    Keren coach tulisannya itu bisa menginspirasi sya juga dn byk orang…di tunggu tulisan2nya lgi :)
    Gbu

    11/07/2013 pukul 23:12

  4. Anonim

    itu jg karena saya masih ingat prioritas hidup yang sering coach ocky bilang.. proud of you coach…

    12/07/2013 pukul 13:02

    • mbing

      prioritas hidup apanih kalo boleh tw ?

      14/07/2013 pukul 19:28

  5. mbing

    kalo kiat pelatih atau staff untuk milih klub ada ga coach ?

    12/07/2013 pukul 22:31

  6. andre

    Wah keren tulisannya, membuka pikiran dan pandangan orang tua jaman sekarang. Kerennn om Ocky

    16/07/2013 pukul 09:49

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s