What goes around comes around..

Matikan Kompor Yang Benar..


Kompor yang benar.. Pic: Web

Seperti biasa, tiap pagi tiba di Mahaka Square Kelapa Gading saya langsung ke dapur untuk membuat kopi. Tapi baru pagi ini saya perhatikan sebuah tulisan di tembok. Tulisan itu betul-betul mempunyai arti ganda, setidaknya buat saya yang baca. Lalu tersirat pertanyaan di kepala milik penulis blog ini. Apa sebagai pelatih saya juga sering menyampaikan sesuatu yang punya arti lebih dari satu? Semoga ini tidak terjadi pada saya dan pelatihan saya. Kalaupun terjadi saya harus membuatnya seminim mungkin.

Bayangkan kalau pada sebuah akhir latihan di hari Sabtu saya ucapkan, “Selamat berakhir pekan, semuanya..” Lalu semua pemain berlibur bukannya beristirahat. Apa yang akan terjadi? Mereka akan melakukan aktifitas liburan selayaknya orang biasa yang bukan atlit! Menghabiskan malam minggu sampai pagi bergaul dengan teman sebayanya dengan tren dunia gempita. Lalu hari Minggu tidur sampai menjelang gelap. sampai sini sudah akan terbayang kejadian di hari latihan Senin esok harinya. Badan semakin hancur dan konsentrasi untuk acara latihan akan hilang.

Atau pada sebuah pertandingan pelatih berkata, “Kita bermain terlalu pelan!” Lalu semua pemain menyikapinya dengan berlari secepatnya seperti dikejar hantu. Alhasil lebih banyak kesalahan yang akan terjadi dan banyak peluang manis yang luput di eksekusikan karena terlalu terburu-buru. Padahal yang dimaksud adalah, perbanyak jumlah serangan dengan gerakan yang paling efisien. Hingga sebuah tim bermain pada jumlah rataan serangannya. Yang biasanya bermain pada jumlah serangan 20x tiap perempatnya, akan dirugikan kalau bermain dibawah rataan itu melawan tim yang di atas kertas masih dibawahnya.

Mengerikan kalau ucapan seorang pelatih selalu bermakna ganda atau kurang lengkap. Saya ingatkan kita (Para pelatih) sudah mempersiapkan semua situasi dengan satu istilah masing-masing. Definisikan jauh hari istilah demi istilah hingga kebingungan tim pada setiap ucapan pelatih dapat diminimalkan. Jujur ini belum sempurna dilakukan pada tiap tim yang saya latih.

Idenya semua pesan dari pelatih harus sejelas mungkin dan tidak bermakna ganda. “Matikan kompor yang benar!” Seolah kompor yang tidak benar tidak usah dimatikan, biarkan saja menyala..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s