What goes around comes around..

“Feed Back” Pelatih, Definisi Kecil..


Respon dari respon.. (Pic: AP)

Salah satu bagian dari proses belajar & mengajar, “Feed back”.  Sederhananya hanya sebuah respon dari suatu akifitas atau kejadian. Tapi kalau disimak dan disiasati dengan tepat, maka siapapun  atau apapun bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Walau nyata-nyata juga bisa menjadi lebih buruk.

RESPON DARI RESPON

Aktifitas – respon – penyesuain aktifitas. Saat seorang pemain atau sebuah tim melakukan latihan, pelatih merespon dengan memberi sebuah “feed back”. lalu respon pemain / tim dari sebuah respon pelatih inilah yang akan menentukan pertumbuhan pemain / tim itu tadi.

KUALITAS RESPON

Bobot baik buruk sebuah “feed back” tergantung sangat pada pengetahuan dan kemampuan evaluasi si pelatih. Pada tim yang merespon baik “feed back” pelatih tadi, akan tersesat apabila kualitas informasi , masukan dan arahan si pelatih buruk. Mungkin ini dulu yang dimaksud hati-hati dengan pergaulan. Bergaul dengan kelompok yang baik saja jangan bermain dengan teman yang nakal. Hehe.. Kira-kira begitu orang tua saya sering mengingatkan. Nyambung gak nih? Hmm.. lanjut!

BUAH DARI KERJA KERAS

Disiplin dan bekerja keras selalu terngiang di telinga klise murid di kelas atau dalam hal ini pemain di tim. Guru dan atau pelatih pasti pernah mengucapkan ini saat persiapan masuk musim baru. Dan banyak lagi pandangan pelatih yang disampaikan sepanjang musim pertandingan sehubungan dengan “feed back ” itu tadi. Dan ujungnya (pada rentang yang beragam) pemain menghela nafas lega dan bersyukur.

Atau tidak usah sampai ujungnya pun sudah akan terlihat hasilnya. Ini juga sudah merupakan suatu “feed back” dari apa yang dikerjakan pada tiap rentang waktu. Misalnya kala suatu tim memasuki tengah musim.  Klasemen sementara bisa menjadi umpan balik yang jelas akan apa yang selama ini dijalankan oleh tim, pelatih juga pemain.

Dari sini semua komponen bercermin pada kenyataan tengah musim. Lagi-lagi meresponi sebuah respon adalah pokoknya. Ranum atau busuknya buah di ujung musim sangat bergantung dari hal ini. Apa ada yang tidak mau menjadi juara, apa ada manusia yang terlahir tidak sebagai pemenang? Ada kah? Aya aya wae!

MENTAL SEMATA

Adalah Bang Dicky (pelatih saya di KU 16 Buls Bulungan) yang menendang kaki saya kala saya melamun. Saat itu kita sedang diajarkan olah kaki yang sangat mendasar. Terima bola sambil lari dan berhenti tanpa melakukan pelanggaran. Pivot melindungi bola saat lawan melakukan tekanan penjagaan dsb.

Dari situ saya kontan sadar dan memperhatikan semua latihan dasar di klub pertama saya itu. Sampai hari ini saya ingat betul tidak ada latihan dasar yang belum kita dapat sebagai modal menjadi pemain basket yang mahir. Materinya bagus dan respon yang dilatih juga baik, alhasil klub itu punya juara di setiap jenjang dari junior sampai senior.

Salah satu dedengkot WBA ( Advisor timnas kita) dari Aussy bertanya pada saya, “Apakah mungkin kalian para pelatih lokal tidak mengajarkan gerakan dasar bermain basket?” (saya menelan ludah!) “Pendekatan pemain dan respon mereka terhadap latihan sangat minim!” (saya langsung permisi, kabur pura-pura sakit perut..)

Materi dan segala konten latihan model apapun akan sia-sia kalau sedikit saja ada resistansi terhadap latihan dan segala umpan baliknya. Nah, pekerjaan rumah para pelatih seperti saya ini adalah..

(Pamit sakit perut beneran!)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s