What goes around comes around..

Asisten Pelatih!!!


Antusias membantu.. Pic: Reinhard

Mohon maaf lahir dan batin, selamat merayakan lebaran yaaaa.. Tunjangan hari raya bisa dipake buat ganti Head Unit di mesin motor saya nih. Beli dan pasang sesegera mungkin. Hehe.. Sebentar saja sudah terpasang, cepat dan rapih pula pemasangannya. Kepala mekanik memperhatikan kerja pembantunya dan pembantunya pasang-pasang, skir-skir dan bersih-bersih. Sesekali kepala mekanik merapihkan pekerjaan dan setingan akhir ditangani beliau.

Minggu lalu tepatnya saya memperhatikan kerja sama antara mekanik dan asistennya. Sesekali dimarahin tapi pembantunya tetap saja kerja maksimal mengerjakan kerjaan yang pastinya sudah ada pakemnya.

Jadi ingat kerjasama pelatih kepala dan asisten pelatihnya di sebuah tim Bolabasket. Hampir 10 tahun saya di pelatihan, ternyata banyak juga saya sebagai asisten atau pembantu pelatih kepala. Banyak sekali keuntungan dan lika-liku sebagai asisten pelatih. Tetapi memang tidak ada yang rahasia dalam pekerjaan sebagai asisten pelatih ini. Semua sudah dijabarkan di buku-buku dan situs-situs di internet.

Di sini saya mau share salah satu batu penjuru saya sebagai asisten pelatih basket. Banyak orang pasti sudah baca “Practical Modern Basketball” (John R. Wooden). Tapi pasti juga banyak yang tidak punya akses ke buku itu atau malas mencarinya. Kalau memang lagi santai ya silahkan simak terus di bawah ini ya. Sreseeet…

Menjadi asisten pelatih bukanlah pekerjaan yang mewah dengan pengakuan di bidangnya. Bukan pekerjaan yang gampang juga bukan pekerjaan yang berat seberat-beratnya. Untuk ini para pelatih kepala sebaiknya betul-betul mengerti situasi ini hingga fasih mensiasati positif akan bawahannya. Para asisten pelatih akan sangat banyak tidak setujunya terhadap berapa hal, tapi mereka juga sadar bahwa keputusan akhir ada ditangan pelatih kepala (Titik!).

Banyak kali pikiran saya dan mulut saya kompak berujar ke pelatih kepala, “Coach, ini tidak ideal dan itu tidak sesuai dengan keadaan sekarang!” Tapi itupun saya sadari akan sebatas masukan semata, tidak lebih. Hehe, memang salah satu kerjaan asisten pelatih ya memberi masukan. Lagian saya percaya betul saat jadi asisten maupun saat jadi pelatih kepala, mendengarkan masukan adalah harta. Bagaimana kita memaksimalkan harta itu yang menjadi bumbu sukses pelatih menangan. Di Bolabasket dan hidup di masyarakat.

Dari sudut pandang pelatih kepala dan juga asisten pelatih, akan sangat membantu apabila staf di sekeliling kita punya..

LOYALITAS

Asisten pelatih bisa saja tidak setuju, tapi jangan pernah ini membuat kita tidak setia terhadap pelatih kepala. Menjadi tidak loyal adalah kunci kehancuran tiap regu yang mau maju. Atau tidak akan pernah mampu mendekati potensi maksimal tim. Kekurangan kemampuan atau keterampilan asisten pelatih tidak masalah, tapi jangan pernah kekurangan kesetiaan.

OPTIMISME

Karakter yang positif dan optimis sangat dibutuhkan untuk sebuah tim yang agresif dan percaya diri. Dan ini memang harus dimulai dari pelatih kepalanya. Jangan menghabiskan waktu mengeluh akan hal-hal yang kita tidak punya kuasa untuk merubahnya. Fokus dengan bagian yang bisa kita tumbuh kembangkan.

ANTUSIASME

Banyak kriteria lain yang diperlukan seorang asisten pelatih. Tetapi antusiasme sangat-sangat penting dan mutlak. Dalam setiap latihan dalam setiap kesempatan, asisten pelatih yang “nyantai” sangat tidak membangun.

PENGERTIAN DARI PASANGAN / KELUARGA

Banyak asisten pelatih yang cakap bermasalah dengan kurangnya pengertian dari keluarganya. Bahkan ada yang sampai meninggalkan pelatihan karena keluarga tidak mendukung. Salah satu pekerjaan di dunia yang banyak meninggalkan keluarganya. Hingga saling pengertian antara asisten pelatih dan keluarganya betul-betul diperlukan. Bagaimana pun juga keluarga atau pasangan bisa punya masalah dalam penyesuaiannya, jadi saling pengertian harus dibina dan diselesaikan. (Thanks Mama Didi..)

BERPENGETAHUAN

Rasa hormat dari para pemain akan hilang kalau asisten pelatih tidak mengerti apa bidangnya. Kalau sudah begini, hasil yang diinginkan mustahil tercapai. Hahaha, kita tidak bisa menghardik pemain jaman sekarang. pemuda-pemudi sekarang cerdas-cerdas. Mereka bukan seperti sapi yang dicucuk hidungnya lalu ikut kemana kita pergi. Kita harus tahu betul apa yang kita bicarakan.

PERSONAL YANG MENYENANGKAN

Asisten pelatih akan selalu berhubungan tiap hari dengan pemain atau menejemen. Tidak pada tempatnya kalau dia berkarakter tidak baik atau selalu gerutu. Sangat tidak diperlukan adalah asisten pelatih yang tidak sopan terhadap lingkungannya. (Tar tau adat dapa tendang dari panta!)

TEPAT WAKTU

Para pembantu pelatih harus selalu menunjukan ketepatan pada waktu. Selalu menyelesaikan tugas tepat waktunya, tepati janji dengan koresponden luar dan selalu rapih dalam pekerjaan organisasi.

RAPIH

Dalam hubungan ke dalam tim dan keluar tim dia harus rapih dan bersih. Tidak mungkin saya punya asisten yang kumuh, gondrong ala medusa yang belum keramas seminggu. Dia akan juga secara konstan berhubungan dengan media dan sebagainya. Rapih dan bersih.. (Sendal / sepatu di mes berantakan tuh!!!)

AMBISI

Asisten harus punya ambisi untuk meningkatkan jabatannya. Dan dia akan menunjukannya saat bekerja hari demi hari. Dengan itu dia akan banyak melakukan hal lain yang lebih dari tugas-tugasnya. Kalau posisinya belum meningkat setidaknya tanggung jawab yang diberi akan meningkat. Jangan hanya mau diberi tanggung jawab pegang stop watch dan menghitung waktu.

HASRAT UNTUK MAJU

Selalu berusaha mengikuti jejak semua yang sudah sukses sebelumnya. Mempelajari permainan basket, belajar pendekatan psikologi untuk bekerja dengan orang lain sebagai bawahan atau atasan. Menganalisa perkembangan tim, kekurangan dan kemajuan program dan sistem bermain tim. lebih fasih lagi dalam mengajarkan gerakan dasar Bolabasket dan meningkatkan diri sebagai manusia.

MENJADI CONTOH

Sama seperti pelatih kepala nya, dia harus berusaha menjadi contoh secara konsisten. Banyak orang bilang contoh lebih baik daripada kritikan. Saya percaya sekali kalau tidak ada buku atau tidak ada perpustakaan manapun yang bisa mengajarkan anak muda jaman sekarang kecuali sebuah contoh.

Wew, setelah saya baca lagi ke atas ternyata mewah juga ya kalau punya asisten pelatih seperti poin-poin di atas. Tapi yang paling seru di otak saya sekarang – “Apa saya selama ini sudah melakukan atau punya hal yang tururai di atas barusan?” Hmm, ok.. Kata “saya” di kalimat terakhir tadi ganti dengan kata “kita”.

“Hil yang mustahal adalah pelatih kepala bekerja tanpa asisten pelatih”

Iklan

11 responses

  1. Anonim

    Nice article coach :)

    01/09/2011 pukul 18:26

  2. Thank you, Mous..

    02/09/2011 pukul 16:15

  3. Anonim

    Ocky tinggal di BSD? daerah mana? tetangga dong kita…..

    Salam

    Ricky Marbun

    09/09/2011 pukul 17:27

  4. indra

    Mantap coach.gw pernah merasakan cerita coach itu saat gw melihat coach, para asisten en d “gang” qta dl.sukses terus coach buat karir nya..

    13/09/2011 pukul 21:05

  5. Agus Salim

    Hai..Coach
    Saya pernah menjadi assistant pelatih tingkat SMP (5 tahun),
    selama saya menjabat menjadi assistant, saya jarang sekali bekerjasama dengan Head coach (do’i jarang datang melatih) alias “ma-ga-but”
    al hasil semua sistem saya rubah menurut apa yang saya miliki…tanpa sosialisasi terlebih dahulu dengan beliau.
    apakah saya salah mengambil keputuan dalah hal ini?
    mohon untuk sarannya yah…

    28/09/2011 pukul 15:59

  6. Waaaaa.. Banyak teman juga yang mengeluh akan ini. Mungkin spesifik kasus mas Agus bisa langsung ajak bicara pelatih kepalanya dan sekolahnya. Mulai saja dari komunikasikan sikon berjalan. Semoga beres dan makin jaya programnya.. :)

    29/09/2011 pukul 12:07

  7. Agus Salim

    Thanks buat sarannya coach… :)

    29/09/2011 pukul 17:47

  8. Jumriah

    Yang mana lebih tinggi tingkatannya tolong di urutkan ( pemain, pelatih, asst pelatih)
    1. ,,,,,,,
    2. ,,,,,,,
    3. ,,,,,,,

    14/03/2016 pukul 08:05

    • Helo Jumriah, jujur saya tidak bisa jawab pertanyaan di atas. Tetapi hendaknya ketiga elemen diatas itu bekerja sama bahu-membahu sebagai satu kesatuan tanpa mementingkan siapa yang tingkatannya lebih tinggi untuk kepentingan bersama..

      Salam,

      10/10/2016 pukul 16:59

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s