What goes around comes around..

IBL TOURNEY: Apa arti margin raksasa..???


PIALA GUBERNUR DKI

Ada beberapa tim Kobatama berpartisipasi di turnamen ini. Jadi kalau soal pertandingan yang timpang ya sudah pasti lazim akan kerap terjadi. Setelah beberapa kali nonton Turnamen IBL di Kuningan, ada satu hal yang paling bikin saya gak nyaman nonton langsung. Berikutnya saya jadi males berangkat ke GMSB (Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro). Kemudian esok paginya cari koran mau tahu berita game kemarinnya. Hah??? Ada tim yang membantai lawannya sampai dengan margin 79 angka.

Yup, tujuh puluh sembilan angka perbedaannya. Bisa kita bayangkan bermain basket membiarkan lawan membuat angka selisih sebanyak itu? Atau sebaliknya, kita bermain basket mencetak angka jeda hingga sebanyak itu marginnya tanpa perlawanan dari opponent. Kira-kira apa yang lawan dan kita dapat dari itu semua ya?

Yang membantai (ditengah game pun) sudah resmi pasti akan menang. Yang dicukur pun sudah jelas akan kalah. Lalu saya iseng mikir, untuk apa ya (dong) kira-kira membantai atau dibabat sebanyak itu. Sampai detik ini saya belum menemukan jawabannya.

Tim jempolan kah?

Dan harus kita akui, Bolabasket kita prestasinya lumayan datar sedari jauh tahun. Juga kita sangat-sangat perlu belajar untuk bisa lebih lagi di kancah luar negeri. Jadi alangkah baiknya kita  share saling berbagi dan sama-sama belajar menekuni cabang ini. 

Mencukur habis lawan (sesama tim Indonesia juga) dengan margin raksasa itu tidak menolong tim kita dan tim lawan kita. Dimana meninggalkan lawan dengan margin besar akan membuat kita terlihat sebagai tim yang jempolan. Tidak, tidak begitu yang terjadi.

“Menghormati lawan tanding hanya akan menjadikan kita sebuah tim yang lebih kuat..”

Malah kita akan terlihat cupu karena lawannya memang tim underdog atau malah dari liga  level bawah. Kalau jaman masih kecil kita sering dengar istilah, “Yeeeee.. Beraninya sama anak kecil!!!” Saat seorang anak kecil dirampas sepedanya oleh anak yang lebih besar.

Fouad Abou Chakra (Lebanon)

Lirik balik ke dua tahun lalu di Kuwait: “Gamenya sudah pasti menjadi milik kita? Ok, sekarang kita share game ini ke lawan kita dari Indonesia dengan bermain pelan dan menurunkan pemain reserve untuk mengakhiri game ini”. “Tidak ada lagi yang melakukan back to back transition offense!” Kata pelatih yang sudah menang jauh. “Pelan, supaya kita malah bisa memantapkan teknik beregu kita dan jalur-jalur pergerakannya.” Tukasnya lagi.

Kira-kira begitulah yang dikatakan  Fouad Abou Chakra, pelatih kepala dari Al-Riyadi (Lebanon) saat timnya sudah  memastikan kemenangan vs MHT pada FIBA ASIA CHAMPIONS CUP 2008 di Kuwait. Muba Hangtuah (Indonesia) akhirnya kalah 44-79 (margin 35 angka). Di qtr 4 game ini MHT menang 2 angka (23-21). Pelatih ini tahu apa yang mesti dia lakukan, ini baru tim jempolan! Beliau tidak menginjak-injak lawannya, karena dia tahu lawannya bukan musuhnya.

Masuk qtr 4 kedudukan 21 - 58

Etika..

Di qtr 4 mereka share gamenya dengan kita yang masih harus belajar banyak dari mereka. Dan lucunya dengan main pelan begitu mereka juga bisa lebih belajar juga. Salut hormat pada pelatih kepala tim Lebanon itu.  

44 - 79 Hasil akhir..

Tidak perlu  heranlah pemain mereka akan gaya-gayaan saat angkanya melesat pergi melayang  meninggalkan MHT jauh. Malah ada yang bergaya sedikit “Streetball” di lapangan. Apa yang terjadi? Disuruh duduk dan gak main lagi sampe game usai.

Saat saya menegur pemain mereka yang menyikut pemain MHT, Coach Fouad mengangguk sedikit ke arah saya dan dengan senyum terbaca dibibirnya berkata “Sorry, Coach..” Terlihat lembut sangat pelatih ini.

Lalu apa yang terjadi, pemain yang nyikut Bohardi (pemain MHT) diganti dan di marah-marahin sepanjang dia berjalan sampai ke benchnya. Dia sama sekali tidak mentolerir arogansi dan kesombongan, terutama  lagi manakala  timnya sudah menang jauh.

“Karena dia tahu, lawannya bukan musuhnya..”

Sangat mudah tentunya Lebanon (dengan Fadi El Khatib-nya) membantai tim Indonesia dengan margin raksasa. Bahkan kalau mereka mau, saya tahu saat itu mereka bisa membuat kita dapat nol besar alias gak bisa masukin bola (Lebay gak neh?).

Tapi ini olahraga dan etika dan sportifitas dan persaudaraan dan lain-lain bleketekuk pletak byar! Menghormati lawan tanding hanya akan membuat kita menjadi lebih kuat. Apalagi lawan tanding itu bisa saja nantinya menjadi teman satu regu kita di timnas.. 

 

 

 

Iklan

16 responses

  1. setuju bamget coach,klo saya pernah melihat kejadian ini di kompetisi kelompok umur tingkat dki 2008. mungkin menurut saya memang pelatihnya ingin menunjukan dirinya sebagai pelatih hebat atau mungkin kurang pendidikan.itu sama saja membunuh pemain yang minute play nya kurang. saya pernah dengar bahwa dalam 1 tahun atlet harus bertanding sebanyak 67 kali untuk mendapatkan golden age nya.

    09/03/2010 pukul 13:26

    • Mungkin kita dan profesi kita aja ya yg kurang bergaul. Jadi belum tercipta saling hormat dan sharing info.. Bener bgt nih, pengalaman bermain di KU mempengaruhi kedepannya..

      15/03/2010 pukul 03:29

  2. indra gultom

    Sangat setuju dengan pendapat coach Ocky,.
    Saya ingin berbagi mengenai permasalahan yang terjadi di tingkat KU saja berhubung menurut saya inilah yang menjadi PR buat para2 pelatih di tingkat KU..
    Saya sering melihat dari segi pelatih maupun Orang tua pemain yang tidak mengerti mengenai pembinaan Bola Basket di tingkat KU..mereka hanya bisa menilai hasil akhirnya saja..Padahal sudah jelas dari Program FIBA bahwa youth basketball is a Basketball Process..
    Hal ini terjadi di tim yang saya kelola,dimana winning is everything..sering saya berdebat dengan para Orangtua mengenai cara saya melatih dimana selalu mendepankan permainan kualitas dari pemain dengan sebuah PROSES.
    Mereka selalu menginginkan yang terbaik buat anak dan timnya namun mereka lupa bahwa kompetisi tingkat KU merupakan kompetisi dimana winning isn’t everything..
    Mungkin inilah salah satu penyebab/indikator didalam pembinaan Prestasi Bola Basket Kita sehingga Coach Ocky masih melihat tidak adanya rasa saling menghormati diantara tim profesional sampai saat ini..
    Oleh karena itu saya masih mempunyai sikap untuk dapat menerapkan proses pembinaan bola basket dari tingkat kelompok umur sehingga saat mereka dewasa, kita tidak melihat lagi SDM pebasket kita baik dari segi pemain atau pelatih melakukan hal bahwa winning is everything..

    09/03/2010 pukul 16:49

    • Bagus juga ya klo di awal tim KU baru mau terbentuk, kita sosialisasikan perencanaan dan manfaat buat si anak ke depannya. Mungkin dengan begini ortu bakal jadi lebih faham..

      Winning isn’t everything terapannya di semua level. Bukan hanya di KU saja, coach.. Ini intisarinya sport, bahwa kemenangan bukan segalanya. NBA pun..

      15/03/2010 pukul 03:34

  3. ricky dt

    siang bung..
    ini jadi kejadian yg kesekian kali ya coach..
    dulu coach pernah cerita waktu scouting game di taun 2007.. malah di situ marginnya hampir 100 poin dan kedua tim main di level yg sama..
    saya punya pikiran, untuk pemerataan tim di level IBL dan Kobatama mungkinkah diberlakukan standard latihan yg sama.. karena saya tahu tidak semua tim di kobatama latihan 12x seminggu.. yg saya tahu cuma ada 1 tim.. mungkin dengan standard latihan yg sama, persaingan di kobatama akan lebih seru.. dan INSYA ALLAH, mereka bisa menyaingi klub2 di IBL coach..
    u always say, IT ISNT BOUT WINNING THE GAME, ITS BOUT HOW WE PLAY THE GAME AND HOW WE WILL END IT..

    17/03/2010 pukul 16:04

  4. maroni fuad

    salut buat coach yang punya prinsip seperti itu,,walaupun pasti akan banyak badai yang menghadang karena prinsip kita menghormati dan menjaga permainan bola basket itu sendiri dari arogansi,,kesombongan….KEEP PLAYIN BASKETBALL WITH RESPECT !!!

    18/03/2010 pukul 08:46

  5. koq foto indra yg dmasukin? bkn pemain no.7? *kedebuuummmm

    22/04/2010 pukul 14:43

  6. andai kata ciduk jd coach&brada pd posisi team yg dibilang jempolan/raksasa/ciamik/manteb/ and the bree..and the bree…

    praktis tim sy menangin momentum!

    okeh depend on weakness area,yg misalnya 1st team dgn 2nd team timpang, dsituasi bgtu bs bgt qt tuker yg 1st jd 2nd &sbliknya!

    trus misal yg katanya set play1-4,1-2-2 qt tepo..jajalin! itung2 simulasi dgn situasi beneran!
    yg ktnya zone def qt bloon?….paaakeeee!!!!
    jd intinya si saatnya coba smua sistem!

    10/05/2010 pukul 11:21

  7. benar sekali coach Ocky, Fouad abou Chakra is great Coach, patut dicontoh, dia tahu bener bagaimana kondisi timnya dan tim lawan, dan dia sangat menghargai dan menghormati tim nya yang dilawannya, walau dia sudah tahu akan bisa menang sangat besar, berbeda dengan di Indonesia, skor mencolok jauh dianggap kebanggaan sebuah tim, ataupun kehebatan pelatihnya, gak hanya di turnamen Gubernur kemarin, di kompetisi antar SMA, DBL dan POP MIE kemarin, pada even POP MIE kemarin bagaimana keegoisan seorang pelatih dengan teganya mematahkan semangat pemain muda, generasi penerus perbasketan kita, Seorang Pelatih yang pernah menimba ilmu di luar negeri, pernah melatih sebuah klub IBL di Medan, sekarang menangani sebuah SMA di medan dengan tega membantai sebuah tim SMA di pekanbaru RIAU,bekas tim sekolah Anak MUBA yang coach latih sekarang, dengan skor yang sangat memprihatinkan 102-0 , its crazy score..,lawan dikasih nilai 0 , pelatih itu tidak berpikir, bagaimana kondisi berbalik Tim yang dia pegang dibantai kayak gitu, apa yang mau di bilang ke anak-anak yang dia latih? mungkin bisa bilang gini, “kalian berhenti basket saja” hehehe, itu sama saja bermain basket tapi tidak ada lawan, tim lawan tidak beri sedikitpun untuk mencetak skor, dan masih banyak even lain, sayapun cuma mendengar hasilnya,tidak tega, apalagi menontonnya, kayak hasil ini : http://www.dblindonesia.com/index.php?act=r_pekanbaru&nw=score
    banyak sekali lawan dibantai dengan angka 0, sungguh sangat menyedihkan perbasketan Indonesia, Thanks buat coach ocky, saran anda benar sekali, semoga para pecinta basket di tanah air menjadi terbuka pikirannya…

    08/06/2010 pukul 09:00

  8. semoga perilaku pelatih lebanon bisa ditiru oleh pelatih-pelatih lokal kita.

    14/07/2010 pukul 08:10

  9. au

    Great coach, emang harus dimulai dari coachnya. Kadang kalo jadi pemain suka kebawa emosi n pengen nunjukin kemampuan. Tks for sharing coach.

    Jadi inget dulu lawan 82 jaman Kumara yang ente pegang, good game dimana kita saling respect walo “hawa” di game udah panas.

    15/08/2010 pukul 12:28

  10. Ping-balik: MAINBASKET | Semoga Lebih Banyak lagi Pelatih NBL Indonesia Seperti…

  11. Ping-balik: Empat Belas Angka dan Satu Liga Baru.. | [[1,5 x 10 pangkat satu]]

  12. Ping-balik: Empat Belas Angka dan Satu Liga Baru.. | neednwantblog

  13. Terimah kasih coach atas tulisanya saya jadi mengerti sedikit artinya ber main basket :)

    10/03/2016 pukul 20:36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s