What goes around comes around..

Pemilihan Pemain..


Wendha Wijaya..

Membangun sebuah tim selalu menjadi hal yang  paling menggetarkan bagi saya. Setidaknya saya atau juga para pelatih Bolabasket dibayar untuk ini. Jelas pemain sangat berperan dalam permainan ini. Hingga pemilihan pemain di awal menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah tim. Kadang penggabungan individu-individu (mental dan keterampilan) yang tepat akan membuat tim menyatu dengan sendirinya tanpa usaha lebih dari pembinanya. Kemenangan di dalam lapangan dan di dalam hidup (bermasyarkat) niscaya menghampiri tim dan para pemain di dalamnya. Saya selalu memulai pemilihan pemain dengan beberapa hal ini.

Mental

Klise, tapi ini selalu menjadi sisi runcing dalam segala hal yang berhubungan dengan kompetisi dan persaingan. Tentunya lebih mudah kalau pemain yang kita rekrut percaya akan Tuhan. Berangkat dari keluarga yang punya nilai-nilai dasar agama yang kuat juga akan sangat membantu perkembangan individu pemain. Saya sangat percaya dengan hal ini. Ini juga yang mungkin menjadi penyebab kenapa pada periodisasi latihan (fisik dan teknik) awal, sangat sarat dengan hal yg berhubungan dengan mental. Apalagi periodisasi mental, Jejeg abis koh!

Paling pertama saya pilih pemain dengan karakter mental yang baik. Dan kalau ternyata mentalnya buruk tapi kita lihat dia ada potensi untuk maju dan berkembang, bina mentalnya. Jangan lupa tiap individu bisa saja hanya sebuah produk dari masyarakat (lingkungan) kita sendiri. Atau yang lebih parah lagi individu itu hanya produk dari tim kita sendiri.

Mental adalah dasar dari semuanya. Dari sini kita bisa sesuaikan dan arahkan ke tiap posisi dalam tim. Beri latihan kekuatan yang hebat agar dia berotot mantap bermain dibawah keranjang, pasti semua acara latihan berat dia lalap. Tekankan level dan tidak sombong atau arogan dalam pertandingan yang sangat keras, dengan senyum dia lewati situasinya. Bantu mengingatkan prioritas (baca ini juga..) dalam hidup untuk masa depannya, pasti jam malam dipatuhinya.

Gesit

Bukan cepat yang seperti sprinter 100m atau tercepat di panjang 28m lapangan basket, bukan. Yang saya cari adalah quickness bukan speed. Pemain yang aktif bereaksi membaca dan mengikuti aksi gerakan lawan. Setelah mental saya selalu pilih pemain dengan gerakan yang gesit ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur dengan lekas (cak-cek). Saya ragu apakah sampai sini pembaca sudah menangkap maksud saya. Mudah-mudahan gesit mewakili definisi yang muter-muter dari tadi di kepala ini.

Latihan-latihan quickness lalu menjadi latihan favorit saya. Baik itu di track atau juga latihan teknik dilapangan dengan bola basket. Secara (Beeuuuuh.. secara!) kebanyakan pemain Indonesia terbatas akan tingginya, gesit menjadi sisi runcing berikut setelah mental. Pemain yang gesit akan sangat membantu dalam sebuah tim.

Cerdik

Saya beruntung (a.k.a: kebetulan)beberapa tahun lalu bisa membawa sebuah tim menjuarai Piala Bang Yos 2 tahun berturut. Dan saya sadar betul saat itu saya diberkahi dengan pemain-pemain yang cerdik. Dengan segala kekurangan kita saat itu Buls Bulungan bisa memaksimalkan kelebihannya. Demikian juga dengan Muba Hangtuah saat menjuarai KOBATAMA 2007 lalu. Senang sekali akan pemain yang mengerti situasi permainan. Saat itu hal ini kita kenal dengan istilah “Main Kalau”. Kalau waktu sudah menjelang habis kita akan bla, bla.. kalau mereka melakukan penjagaan zona kita akan jedar, jeder.. kalau pemain kunci lawan foul trouble di awal game kita akan pletak, pletuk..

Barangkali pintar dan tidak pintar dalam akademis bukan kasusnya disini. Saya tahu banyak pemain yang Index Prestasi di kampusnya tinggi tapi Basketbal I.Q-nya tidak sejalan dengan prestasi cemerlang akademisnya. Saya harap cerdik cukup mewakili apa yang saya maksud. Oh.. satu hal lagi! E.Q  (Emosi) juga menjadi bagian dari cerdik dan tidak cerdik. Pemain cerdik menjadi piihan saya.

Terlalu mewah memang kalau kita bisa mendapatkan beberapa pemain dengan semua tiga kriteria utama di atas. Tapi mutlak (dan bukan tidak mungkin) adalah saat kita mengidamkan medali emas Asia Tenggara dari Tim Nasional kita. Saya pilih tiga diatas ini kalau kita betul-betul mau bersaing dan berbicara di luar. Teknik dasar yang baik, keterampilan yang sesuai sistem bermain si pelatih, ukuran tinggi juga besar badan, umur dan beberapa hal lain (kemauan sob edeg atau titipan rejenem timnas) pun menjadi dasar pemilihan. Buat saya sekali lagi tiga hal diatas menjadi yang utama dalam pemilihan pemain dalam tim. Beeuuuuh, mewah! Tapi gak harus mahal..

 

Iklan

12 responses

  1. Ichsan Ruziek

    namun kadang team (bukan pelatih – mungkin manajemen) mempunyai prioritas lain dalam pemilihan pemain yakni GLAMOR. Tidak sama dengan PAMOR dimana glamor lebih memaksakan minutes play kepada sang bintang walaupun beliau sedang bocun (walah bocun). Sedangkan Pamor bisa dimiliki oleh pemain glamor, tp belum tentu Glamor punya Pamor.

    02/09/2009 pukul 11:35

  2. Ocky Tamtelahitu

    Mungkin pada jenjang tertentu saja coach..

    02/09/2009 pukul 19:33

  3. Ichsan Ruziek

    Jenjang tertentu yang terdapat faktor entertain didalamnya? Sependapat Coach.
    Ditunggu tulisan berikutnya ya.

    03/09/2009 pukul 15:28

  4. Yang terpenting tahu kebutuhan dan mengisi posisi yang memang benar membutuhkan. Sekecil apapun peran orang itu dalam TEAM dia ikut membawa sukses tidaknya sebuah TEAM….

    09/09/2009 pukul 02:32

    • Ocky Tamtelahitu

      Buat saya, kebutuhan dasarnya ya 3 hal di atas ini. Dari situ kita berangkat membangun. Lalu kita buat atau kembangkan ke peran2 atau posisi2 yg spesifik di tim..

      26/09/2009 pukul 05:44

  5. mungkin hal itu bisa terjadi pada tournament tingkat pro……bisa nekenin dan bikin parameter pemain berdasarkan keinginan sendiri. ini-itu bisa dipilih pemain yg sesuai karakter pelatih yg pelatih ingin.
    nah klo pada tingkat pelajar dan mahasiswa?mksd saya tournament antar mahasiswa sprti LIBAMa…kan ga selalu kita bisa beli pemain sana-sini…
    klo coach sndiri menanggapi itu gmn?
    thx b4

    25/09/2009 pukul 22:11

    • Ocky Tamtelahitu

      Mental, gesit dan cerdik sangat mungkin didapat dan dikembangkan di pemain2 muda. Jadi bukan wacananya di sini untuk memilih dan membeli pemain.

      Buktinya untuk timnas kita, toh tidak mampu juga “membeli” pulang pemain WNI yg main dan tumbuh di Philippine agar bergabung dengan tim nasional kita. Bikin.. Nikmati pertumbuhannya.

      Thanks juga udah mau mampir..

      26/09/2009 pukul 05:55

      • Desi a.k.a ciduk

        Owh brarti pelatih bukan cm jago teknik,taktik,strategi…tapi hrs jago sulap jg!haha…
        Ok,smoga para platih2 disini nanti bs sulap atlit2nya jd manteb kelak!
        Ya ga coach?hahaha..

        Sama2 coach…
        Tulisannya oke2 bwt inspirasi euy! :-)

        27/09/2009 pukul 13:41

  6. phican

    saya setuju ama coach tapi coach pembinaan di basket sekarang ini agak kurang,seharusnya tiap klub siap melatih keterampilan2 ini coach,dan seperti saya yang masih pelajar,kesempatan2 bermain dalam turnamen seperti porda dsb,kurang menjangkau pemain2 yg berbakat yg kurang relasi.karena pengalaman dalam pertandingan besar tsb akan membuat semua kriteria2 dia atas meenjadi matang.

    thx coach ditunggu tulisan2nya..

    26/09/2009 pukul 14:57

    • Ocky Tamtelahitu

      Thx jg.. Pertandingan dan kompetisi memang membuat semua yg terkait di tim jadi lebih matang. Tapi kalau kurang relasi berhubungan dengan kematangan? Saya belum paham..

      27/09/2009 pukul 14:57

      • phican

        ow maksudnya bakat pemain2 di sma sekarang banyak yang bagus coach tetapi kesempatan mereka dalam bermain di event2 besar kurang karena tidak ada nya relasi.
        thx coach inspirasiin saya banget nih..

        30/09/2009 pukul 03:22

      • Ocky Tamtelahitu

        Perbanyak ikut even saya pikir sudah cukup ya. Masalah itu even besar atau tidak mungkin belum (bukan tidak) penting untuk smu di Indonesia. Kenyataannya saja memang evennya kurang. Tidak mesti ada relasi kan,
        Thanks juga..

        30/09/2009 pukul 04:17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s