What goes around comes around..

Penting dan Belum Penting


Semua punya hak melatih?

Versi Bolabasket Kita..

Saya pikir penting dan tidak pentingnya segala hal sangat berhubungan langsung dengan skala prioritas. Juga berhubung langsung dengan pengaturan waktu (titik!). Ini sebabnya sebisanya saya minimalkan penggunaan kalimat: “Ah, itu tidak penting!” dalam keseharian diri. Tapi belakangan sangat kecewa dengan bagaimana Bolabasket kita menerapkan aturan dengan sudut pandang yang ANEH! (Terlihat marah nih si penulis..) Setelah membaca semua yang di bawah ini, silahkan saja untuk komentar sesuai seperti yang di pikiran pembaca. Ini yang saya lihat belum penting..

Siapa yang boleh main..

Adalah Zaid Farhan (Igor) pemain Universitas Budi Luhur. Pemain ini aktif sebagai mahasiswa dengan pertumbuhan akademis setara dengan pertumbuhan keterampilannya memainkan si bola bundar di lapangan. Dengan tinggi yang 195cm dan dengan umur yang relative muda, dia bisa menjadi apa saja yang Bolabasket kita perlukan di masa depan.

Berhasil membawa tim kampusnya Juara DKI 2007 (saat ini dia belum gabung klub Kobatama), dia juga aktif berlatih di klub yang berpartisipasi hingga menjadi juara di Kobatama 2007.

Namun jujur kenyataanya di Kobatama dia hanya beberapa kali pakai kaos tim dan bermain hanya beberapa menit di lapangan karena prioritas pelatih dan persaingan yang ketat di tim. Jadi saya pikir pemain potensi ini tentu perlu menit main yang lebih lagi dari kegiatan di luar klubnya. Tepatnya, dia perlu bertanding sebanyak-banyaknya.

Datang musim Libama DKI 2008, Igor dan satu lagi pemain Budi Luhur yang juga pemain klub Kobatama tidak boleh main bersamaan. Peraturan Libama DKI menyatakan hanya satu pemain Kobatama saja yang boleh main dilapangan (Seolah 2 pemain Kobatama di Libama DKI terlihat terlalu jago banget!!!).

Ini aturan di Libama DKI, sementara di Libama Nasional satu tim isinya pemain Kobatama juga boleh main (max. 2 tahun berturut). Aneh.. Peraturan ini sangat bodoh (barusan saya tulis bodoh ya? IYA saya tulis bodoh!) dan sangat menghambat kemajuan tim dan pemain yang adalah aset Bolabasket kita kedepan.

Saya tanya salah satu pengurus Libama DKI (Yang lucunya dia juga pelatih kepala tim salah satu peserta Libama DKI!), untuk apa ini semua diatur? Sesuai dengan peraturan yang dari dahulu sudah diterapkan, cetusnya. Buat Libama DKI ini penting diatur? Dengan kenyataan kita kurang kompetisi, ini belum penting untuk diatur!!!

Siapa yang boleh melatih..

Di pelatihan Nasional kita tahu ada beberapa tingkatan lisensi. A sampai C dengan C adalah level paling bawah. Level tim atau level kompetisi tertentu hanya boleh dilatih oleh lisensi tertentu. Saya tidak akan bahas terlalu spesifik disini karena distorsi dan salah pengertian akan terjadi.

Tapi kalau pelatih mana yang boleh duduk di tim bench saat pertandingan diatur juga, saya pikir ini adalah sebuah kegilaan! Di atas saya ada tulis kata bodoh, kalau yang ini buat saya, GILA! Bagaimana tidak, kalau asisten pelatih (dengan lisensi B) Muba Hangtuah tidak boleh duduk di bench pelatih?

Sementara saya (dengan lisensi A2) boleh duduk di bench pelatih. Asisten pelatih Muba HT tersebut berpengalaman melatih sama persis dengan saya di 7 tahun terakhir kita aktif di level nasional. Lalu kita juga sama-sama pernah jadi asisten di Timnas. Kenapa ya? Kenapa saya (asisten pelatih SMB) bisa dapat lisensi A2 sementara Rahimi Ocim (asisten pelatih MHT) tidak? Tahu dari mana saya lebih pantas dari pada dia?

Ambil perbandingan lagi dengan asisten pelatih Pelita Jaya (A2), pelatih kepala Garuda (A1) dan asisten-asistennya, asisten pelatih Angsapura (A2), pelatih kepala MHT (A2), asisten Bima Sakti (A2), asisten stadium (A1) dan masih banyak lagi lainnya yang memegang lisensi, Apa mereka lebih pantas duduk di bench di banding pelatih lainnya?

Mengapa mereka boleh dapat lisensi A2 atau A1 dan duduk di bench depan? Mau lisensi A – Z kah, mau apa kah silahkan saja,  tapi tidak memperbolehkan pelatih duduk di bench? Kenapa tidak semua pelatih boleh duduk di bench pelatih sesuai dengan jumlah orang di bench yang diatur dalam peraturan pertandingan? Sederhana bukan? Gitu aja kok repot..

Banyak lagi aturan yang bikin kita jalan ditempat sebagai sebuah cabang Olahraga. Untuk apa peraturan-peraturan seperti  diatas itu dijalankan kalau hanya untuk menghambat perkembangan Bolabasket kita. Mana yang penting diatur dan mana yang belum penting. Biarkan kami melatih dengan kenyataan Indonesia juga kekurangan pelatih kan! Untuk PB dan IBL ini penting diatur, buat saya ini belum penting! Esensial? Pastinya tidak..

Udah dulu ah, emosi!

Mending bongkar karburator aja deh, kemarin kehujanan blebek-blebek nih karburator tercinta..

Iklan

3 responses

  1. ibe

    tapi sekarang peraturannya da dirubah…keren ga tuh…jadi bingung…sebenernya siapa si yg berhak buat peraturan…saya pikir kalau acuan libama dki itu libamanas sah2 aj dah…coz yg saya tau di libamanas untk pemain kobatama ga dilarang….

    24/06/2009 pukul 17:05

  2. Arif

    Tulisan coach Ocky ada benarnya juga…

    03/10/2009 pukul 10:29

  3. derry yoeliatri

    kow setelah abis baca malah bikin ketawa yaa..
    lucu,asli lucu couch tulisannya,,
    membela teman ya…
    hihihihi..
    semngat 45 nich tulisannya,,
    tpi kow malah ujungnya kembali ke karburator lagi ya..??

    18/01/2010 pukul 00:16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s