What goes around comes around..

Dampak Ringelmann di Bolabasket Indonesia


22.10.06

Bolabasket pasti dimulai oleh lima orang dalam satu tim, tapi dibutuhkan lebih banyak lagi pemain untuk mengakhiri sebuah pertandingan. Hingga dibutuhkan kerjasama bukan hanya pada lima orang pemain saja melainkan lebih dari itu. Kegagalan sebuah organisasi dalam membentuk tim Bolabasket yang solid akan berakibat fatal. Pelatih dan menejer bertanggung jawab langsung akan hal ini. Semakin banyak pemain yang terlibat akan semakin banyak lagi faktor yang harus dicermati, menarik sekali! Belum lagi tidak semua pemain akan memberikan 100% usahanya.

Dampak Ringelmann

Penurunan penampilan rata-rata individu pasti terjadi apabila jumlah anggota kelompok meningkat. Ringelmann, seorang psikolog asal Perancis telah membuktikan itu. Semakin banyak anggota kelompok, semakin menurun pula penampilan rata-rata individu didalamnya. Atau lebih rinci lagi dalam tim-tim IBL, penambahan pemain bintang dalam sebuah tim akan menurunkan penampilan rata-rata individu tim tersebut.

Alhasil misalkan 4 pemain Bolabasket kelas Nasional bermain pada satu tim yang sama, akan menurunkan penampilan rata-rata mereka. Sebaliknya bila 4 pemain kelas Nasional itu bermain di 4 tim yang berbeda tentunya akan jauh lebih baik lagi penampilan rata-rata mereka. Lebih lagi bukan hanya satu tim saja yang meningkat prestasinya, tapi ada 4 tim yang terangkat penampilannya dari segala hal (tehnik, strategi, pemasaran klub dsb.)

Tim-tim yang Dominan

Iseng-iseng kita tengok sebentar ke lima tahun terakhir liga Bolabasket teratas Indonesia. Kalau saya tidak salah hanya ada 2 nama tim yang mereguk nikmatnya menjadi juara Nasional. Dan saya tahu bahwa pemain-pemain dari 2 tim inilah yang mendominasi tim Nasional negara kita. Tak perlu menjadi jenius untuk memprediksikan tim mana yang akan menjadi finalis tiap tahunnya.

Sampai sini pertanyaan timbul, apa penggemar Bolabasket kita tidak bosan? Mungkinkah tim lainnya tidak punya mimpi untuk masuk final dan menjuarai liga? Juga seberapa dalam anggaran yang harus dirogoh pemilik klub untuk mengumpulkan pemain kelas Nasional, hari gini? Atau apakah si individu pemain tidak mau meningkatkan penampilan rata-ratanya dengan memilih klub yang pantas? Tidak berarti pemain harus bergabung dengan klub papan atas yang sudah pasti menang di atas kertas bukan?

Pemain Bintang

Satria Muda Britama disebut oleh banyak orang sebagai tim yang komplit dari sisi materi pemain. Cepat, kuat, terampil dan masih muda-muda. Tentunya kalau tua-tua nama klubnya mungkin Satria Tua kali ya? hehe.. (ada yang mulai cengar-cengir..). Tim IBL ini diunggulkan juara tahun 2006 dan terbukti benar. Sukses pasukan Fictor Roring ini betul-betul hebat, dua gelar IBL dalam satu tahun diraup sekaligus.

Terlihat sepintas mudah untuk seorang pelatih berprestasi dengan materi pemain bintang atau kelas Nasional. Sama sekali tidak! Pelatih SMB itu bukan hanya sukses menanamkan sistem bertahan & menyerang di klubnya, tapi dia juga gemilang menekan dampak Ringelmann dan meningkatkan penampilan rata-rata individu anggota timnya. Hingga mengawinkan gelar turnamen dan kompetisi tahun ini.

Tapi topiknya adalah semakin banyak pemain bintang akan semakin turun juga penampilan rata-rata individu para pemain bintang tersebut. Jadi peningkatan penampilan para bintang yang berada dalam satu tim tetap tidak akan bisa maksimal. Lebih baik buat semuanya kalau misalnya 4 pemain bintang dalam satu tim itu musim berikutnya bermain atau dilepas pada 4 tim yang berbeda (yang cengar-cengir barusan mulai berpikir untuk menelepon). Setidaknya ada lebih banyak lagi tim yang berpeluang untuk bermain di final karena kebagian pemain bintang. Tambah seru pastinya Liga IBL, tentu!

Liga Yang bertumbuh

Di sebuah rapat evaluasi seri IBL 2006 seorang pelatih sibuk mempertanyakan ketidak mampuan wasit dalam memimpin pertandingan hingga menjurus ke perkelahian antar pemain. Yang saya lihat disini adalah pelatih (bagian dari Liga) berharap lebih dari wasit (juga bagian dari Liga) untuk menjamin bahwa pertandingan tidak akan menjurus ke sebuah perkelahian. Lalu menejer klub berharap kontrol itu ada pada pelatih, demikian juga pemilik klub berharap pada jajarannya.

Pada situasi ini banyak bagian dari Liga kita yang sadar tak sadar sudah menurunkan usaha rata-rata masing-masing. Dari sudut pandang pelatih Bolabasket, bukankah sudah tugas dan tanggung jawab kita untuk membina mental pemain Basket dan bukan melatih petinju atau pesilat di lapangan Basket walau kerasnya benturan fisik pasti kerap terjadi? Mungkin kita (semua bagian dari Liga) berharap banyak dari bagian lainnya di Liga. Hingga kita kurang berusaha maksimal pada tanggung jawab dasar kita masing-masing. Sedikit kordinasi dan kesadaran pasti IBL bertumbuh lebih pesat.

Situasi dampak Ringelmann semua di atas juga bisa saja terjadi pada jajaran pelatih di satu klub. Semua tim IBL punya paling sedikit 2 pelatihnya (1 pelatih kepala & 1 pelatih pembantu) atau ada juga yang jajaran pelatih dalam satu klub jumlahnya sekarung lebih 2 kg. Saya pikir Liga kita tidak diuntungkan dengan hal ini. Pelatih yang satu pasti berharap banyak pada pelatih yang satu lagi demikian seterusnya. Jadi pengalaman dan latar belakang pendidikan pelatih-pelatih yang tergabung dalam satu organisasi itu tidak akan maksimal tampil terlihat pada klubnya (malah rugi dong pemilik klub?).

Sementara ada klub di Liga nomer satu atau dua kita yang pelatihnya jauh dibawah jajaran pelatih satu klub itu. Kenapa mereka tidak meyebar dan melatih tim-tim lain? IBL dan Kobatama sama sekali tidak diuntungkan akan hal ini. Ujungnya Tim Nasional juga kurang bertumbuh. Saya acung jempol, hormat dengan adanya pelatih senior kita yang melatih di Liga nomer dua. Pembinaan mantap di lebih banyak jenjang. Dampak Ringelmann jadi ragu tuk nongol, Pelatihan merata berbuah prestasi menonjol. Bukankah di sepak bola semua orang menantikan gol? Jadi korelasi harapan gue pindah klub, dampak Ringelmann dengan gol, apa dong, Dol? Ditunggu jawabannya Sabtu sore minggu ini di lapangan Basket SMU 70 Bulungan.

Iklan

5 responses

  1. Ocky Tamtelahitu

    Jujur yang satu ini buat pribadi agak basi. Saya kembali bergabung dengan klub saya yg 2006 saya tinggalkan (resign).
    :manyun:

    15/05/2009 pukul 14:00

  2. sinyo

    setelah baca artikel ini terbesit di pkran, harusnya IBL bs lbh maju dr sekarang ini,jikalau pelaksanaan di lapangannya seperti coach jabarkan. pastinya banyak penonton dan sponsor yang berdatangan.jadi inget kobwtama jadul.kenapa saya bilang jadul,karena penonton dan sponsornya banyak,diluar pemain asingnya ya. saya berharap ini bs terealisasi

    25/11/2009 pukul 03:25

  3. Ping-balik: NBL: Jas dan Sepatu Kinclong « [[1,5 x 10 pangkat satu]]

  4. kenny

    lagi-lagi uang berbicara…

    15/07/2010 pukul 21:27

  5. Ping-balik: Efisiensi Serangan dan Pertahanan | [[1,5 x 10 pangkat satu]]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s