What goes around comes around..

Belum Ada Judul Nih!


28.10. 2005

Dari 40 menit yang dimainkan di sebuah pertandingan Bolabasket, setiap saat sangat berarti. Hingga sebuah hasil pertandingan bisa sangat mengejutkan. Dengan adanya pemain asing di turnamen ini, hampir semua pertandingan bisa membuat salah yang diatas kertas. Tim unggulan bisa kalah dari bukan tim unggulan. Contohnya di Malang HP Aspac sampai tengah perempat ketiga masih ketinggalan 11 angka dari IM Panasonic Telkomsel, Aspac akhirnya menang. SM Britama hampir kalah dari tuan rumah Avian Bima Sakti di Malang lalu. Cantiknya Bolabasket persis Tias, Seru! 

BS Malang memang bukan tuan rumah di Solo dan bukan juga tim papan atas. Tapi mereka dapat satu tempat untuk bermain di 4 besar di Surabaya. Tim ini ‘menjungkir-balikkan’ pasar taruhan (Saya tidak tahu ada dimana nih pasarnya!) dengan mengalahkan Panasia Garuda.

Tim papan atas liga dari Bandung ini diperkuat dengan pemain asing yang penampilannya selama turnamen ini paling baik. Edwin Bacani mencatatkan rataan 23.8 angka/gim dan 7.0 rebound/gim. Malahan saat menghadapi SM Bacani mencetak 30 angka. Saya masih tidak percaya Panasia tersingkir.

Kejutan lagi terjadi di Solo, IMPT dibuat pusing dengan kekalahan mereka atas tim bawahannya. Kalila memaksa IM bermain dengan perpanjangan waktu dan membawa pulang kemenangan. IMPT lebih beruntung mendapatkan M.Garcia (13.0 angka/gim dan 8.0 rebound/gim) daripada R.Menor. Sekali lagi saya dan banyak orang pasti kaget, Menor dan Kalila-nya membabat IMPT.

Memang sebaiknya tidak perlu heran kalau keterampilan bermain Basket perorangan tidak selalu membawa prestasi. Sistem menjaga dan menyerang tim diatas segalanya, ditambah pemanduan pertandingan dari seorang pelatih yang punya orientasi beregu akan mencatatkan prestasi yang lebih pasti.

Saya melihat disetiap pertandingan ketat atau saat tim unggulan dikalahkan tim bukan unggulan, pasti tempo permainan hanya normal atau malahan dibawah normal alias lambat. Partai SM-BS di Malang mencatatkan kepemilikan bola (ball possession) yang dibawah 70 atau punya kesempatan menyerang hanya dibawah 70 kali.

Juga saat BS membungkam Panasia, kepemilikan bola Panasia hanya 69. Kita tidak tahu ini memang strategi BS atau terjadi begitu saja. Sabar dalam menyerang atau melakukan tembakan saat waktu menembak (24 second shot clock) memasuki 10 detik dihitung mundur. Pemain-pemain dari kota Malang ini melakukannya dengan baik kemarin.

Yang jelas BS sebagai tim yang tidak diunggulkan di 4 besar turnamen ini memperbesar kemungkinan menang mereka dengan mengurangi jumlah serangan lawannya. Kesampingkan dulu pemanduan pertandingan (game-coaching) dari pelatih masing-masing tim.

Cepat atau lambatnya alur permainan sebuah gim mempengaruhi hasil akhir, bukan kecepatan berlari seorang pemain tapi sedikit atau banyaknya serangan atau diserang. Pasti menarik tuk melirik apa yang akan dilakukan pelatih-pelatih tim 4 besar ini.

Para pelatih tim-tim peserta tahap 4 besar pasti dipenuhi serotonin yang mondar-mandir di tubuh mereka. Bagaimana caranya mempertahankan kemungkinan yang sudah diatas kertas untuk menjadi juara, atau bagaimana caranya melawan dan membalikan kemungkinan kalah yang didasari angka-angka 2 seri kemarin.

Sekarang HP Aspac punya peluang 51% untuk memenangkan gim lawan Avian Bima Sakti. Tapi di penyisihan, Panasia waktu itu juga mempunyai peluang yang sama lebih besarnya dibanding BS. Hasilnya terbalik, BS memenangkan pertandingan.

Sumbangan dari De Guia pemain asing BS yang punya rataan 11.8 angka/gim dan 10.3 rebound/gim cukup untuk sekali lagi membalikkan perkiraan masyarakat. Rebound Bernard yang pasti selalu diatas 10 membuat yakin penembak-penembak jauh Avian BS (Dimas 45.5% dan Christian 43.8% dari luar garis 3 angka) untuk mendapat bola dan mengeksekusi tembakan.

Hanya saja Aspac diuntungkan dengan adanya pemain seperti Ali Budimansyah (5.7 assist/gim) dan AF.Rinaldo (3.5 assist/gim) yang selalu akan tampil kemuka untuk membawa kemenangan bagi timnya. Lihat bagaimana alur bola menuju Guard Xaverius Prawiro (71.4% tembakan 2 angka) yang sangat menikmati bermain dengan senior-seniornya.

Sebagai pemain senior juga, Wahyu Hidayat Jati (penyerang dengan 5 assist/gim) akan berusaha memastikan 53% kemenangan bagi Satria Muda Britama melawan Bhineka.

Namun Bhineka dengan Rensy Banjar-nya dan Bima Sakti dengan Bernard De Guia-nya tahu, bahwa masih banyak lagi faktor-faktor (mental & kondisi pemain, pemanduan permainan dll.) yang bisa membuyarkan apa yang diatas kertas. Sebagai tim-tim yang tidak diunggulkan, tinggal bagaimana mereka melakukan penyesuaian. Atau memang mungkin seru juga ya kalau Bima Sakti bertemu Bhineka di partai final besok.

Indahnya Bolabasket, tidak atau belum ada yang benar-benar tahu hasil akhir sampai setengah babak dimainkan atau sampai 5 menit terakhir di perempat keempat. Kalau tahu pasti saya sudah cari mati-matian pasar yang disebut diatas. Jadi judulnya apa nih?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s